Oleh: Inswiardi *)
Menapaki tiga tahun perjalanan Hari Santri, yang dipahat indah melalui Keputusan Presiden
(Keppres) Nomor 22 Tahun 2015, telah
menarik mundur ingatan kita, kala Pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 menyeru membela negara adalah sebagian
jihad. Fatwa bela negara dikeluarkan sebagai upaya melindungi bangsa
Indonesia dari pendudukan penjajah.
Seiring perjalanan
waktu, momentum resolusi jihad yang menjadi akar kesejarahan peringatan Hari
Santri Nasional, mengalami perluasan makna dikarenakan tantangan jaman yang
telah berubah. Perlawanan terhadap sekutu bermetamorfosis menjadi upaya Santri
memantaskan diri ditengah tantangan dan dinamika kekinian.
Santri yang semula identik dengan anak –anak yang
menimba ilmu di lingkungan Pondok Pesantren, oleh Bupati Jombang Hj. Munjidah
Wahab, diberi pemaknaan baru, sebagai insan (pribadi) yang tengah menimba ilmu,
baik di lingkup pendidikan umum maupun khusus, tidak terkecuali Pondok
Pesantren. Dengan pemaknaan tersebut,
diharapkan momentum Hari Santri
bisa dirayakan oleh siapa saja, dari berbagai kalangan. Pada titik ini NU telah
memberikan warisan berharga kepada perjalanan berbangsa.
Dengan demikian,
maka tantangan yang ingin dijawab melalui HSN 2018, adalah Pertama, HSN berkewajiban menjaga spirit santri sebagai seorang
pembelajar. Pribadi yang mencintai
keilmuan. Kedua, HSN berkewajiban menjaga spirit santri dalam
pembangunan akhlak terpuji dan tranformasi nilai. Ketiga, HSN berkewajiban menjaga spirit santri sebagai kekuatan
pendorong dan pemersatu, penjaga harmoni dalam kehidupan bermasyarakat dan
berbangsa.
Harapan kami, HSN
2018 tidak dimaknai sebagai ritual selebrasi belaka, melainkan bisa menyentuh
lapis kesadaran semua pihak untuk memberi makna terbaik serta menghasilkan dorongan keterlibatan santri
dalam ruang-ruang strategis. Santri diharapkan mampu menjadi tulang punggung
negara sebagai kekuatan pembangunan karakter, khususnya bagi generasi muda.
Sekaligus sebagai motor pelaksanaan Undang Undang Pemajuan Kebudayaan serta
pengawal RUU Pendidikan Pesantren .”
Membincang ruang
pemajuan budaya, yang terbersit dalam pemikiran saya adalah konsep keruangan
Jombang sebagai kota santri. Santri dalam
pengertian pribadi yang mencintai
pengetahuan, saya jadi teringat apa yang disampaikan Cak Nun, ketika hadir sebagai Narasumber Uji
Publik Hari Jadi Jombang, di Hall Bung Tomo Pemkab, 5 tahun silam.
Bagi Cak Nun,yang
dibutuhkan Kota Jombang tidak sekedar tanggal hari Jadinya, melainkan “situasi terwaris” yang diyakini kota ini, sebagai
role model untuk tumbuh berkembang. Jombang harus punya cara untuk mendidik
warganya untuk menjadi pembelajar yang baik. Konsep tetenger, menjadi tawaran
yang baik bagi Jombang untuk membangun tradisi mencintai pengetahuan. Dengan
konsep tetenger, setiap tempat akan bisa menyajikan kebanggaan sekaligus data
untuk dikupas, diperas, dan diambil saripati nilainya, sabagai penguat
kedirian.
Seperti Praha yang memiliki Kafka, Jombang
juga mempunyai anak-anak bernama Santri. Anak-anak yang tersebar di berbagai
sekolah, pesantren, maupun kelompok belajar masyarakat. Situasi yang patut
ditanyakan saat ini, adakah ruang-ruang kreatif yang bisa disodorkan kota ini,
untuk tempat mereka bertukar tangkap gagasan, mimpi, atau sekedar celoteh
pelipur penat.
Menjawab persoalan
ini, tentu tidak bisa sendiri. Ada arus persebaran informasi dan pengetahuan harus didesain selaras dinamika kekinian. Ada ruang kreatif yang
disiapkan sebagai tempat berkumpul. Ada pengumpul yang memunguti dan mengorganiser
gagasan. Ada yang menyediakan kemasan atas gagasan kreatif. Ada yang mendiseminasi
gagasan ke ruang-ruang yang lebih luas. Ada laboratorium yang menguji gagasan kreatif tersebut, serta ada yang memberikan reward atas semua gagasan kreatif yang
berhasil dilaksanakan.
Sekali lagi, ingatan
saya hinggap pada seorang karib, anak Jombang yang telah menyinggahi beberapa
kota di banyak negara. Seorang santri yang rendah hati. Kami dipertemukan
melalui kedai kopi sederhana di tengah kota jombang. Doktor muda ini bercerita
tentang Gus Dur panjang lebar. Bercerita tentang tokoh-tokoh dunia, yang
dihormati dinegaranya, tetapi mereka tidak pernah mendahului negaranya. Tentang
arsitektur-arsitektur kota yang digali dari spirit pemikiran tokoh di kota
tersebut. Tentang anak-anak yang melahap buku.
Sore itu, saya menjadi pendengar yang baik, karena setiap
lentik informasi dan gagasan yang
disajikan, seperti sihir yang membuat mulut saya terkatup, dan kepala saya
hanya mengangguk, tanda bersetuju.
Simpulannya, Jombang bersyukur mempunyai Gus Dur. Soal
internasionalisasi pada sosok Gus Dur, sudah selesai. Yang menjadi pekerjaan
rumah bagi kota ini adalah, menjadikan sosok Gus Dur menjadi momentum yang
mampu memberi spirit kota ini untuk membangun keruangan dalam dimensi
internasional. Nada ucapan anak muda ini mulai meninggi. Saya tidak tahu
kenapa,mungkin geram yang mengeram menjadi rasa putus asa. Atau ada kecamuk di
pikirannya. Sekali lagi, saya hanya menatap dia dengan penuh kesima.
Jombang tidak cukup
duduk diam menunggu dunia internasional datang membincang tokoh-tokohnya,
alamnya, atau sisi lain kota ini.
Jombang harus aktif untuk hadir diruang-ruang internasional, menyerap energi
global, menyimpannya, serta meledakkannya dalam sebuah karya dan
peristiwa. Menyediakan pendopo
kabupaten, hall – hall pertemuan, ruang rapat dinas, pendopo kecamatan, atau
tempat-tempat strategis lain untuk dibanjiri mimpi dan ide kreatif, saya pikir
tidak terlalu sulit.
Mendidik anak-anak
pelajar (baca: santri) untuk bertanggungjawab terhadap ucapannya, juga tidak
terlalu sulit. Apalagi membungkus gagasan baik, menyediakan laboratorium, serta
memberikan reward, tentu tidak sulit.
Saya ambil contoh,
Jombang bisa memulai dengan gerakan penguatan literasi. Ketika di tingkat dini,
mereka dikenalkan dengan buku, maka pilihan yang selaras adalah menyediakan
buku bagi mereka. Banyak terjadi perpustakaan menunggu pembaca datang. Mengapa
kita tidak ubah dengan mendatangi anak-anak pelajar (baca; santri). Kita desain
cara yang diminati anak-anak, dengan menyediakan judul buku yang disukai.
Setelah itu kita
siapkan kompetisi siswa untuk meresume, menyampaikan, membangun konstruksi gagasan, dan penelitian. Seandainya tiap
tahun, penerima penghargaan kompetisi
ini difasilitasi untuk menimba pengetahuan ke manca, saya yakin geliat membaca
bisa dibangun. Jangan terjebak soal manca, manca hanyalah sarana kita untuk
membangkitkan semangat, bahwa kita mampu menyapa dunia luar. Justru dengan
hadir dimanca, kita bisa menyerap energi pengetahuan di sana.
Melalui momentum
hari Santri ini, saya hanya bisa berharap, Jombang bisa melihat potensi Santri
untuk membangun keruangan yang dinamis. Keruangan yang bisa mengangkat Jombang
di level manapun. Keruangan yang tanpa nama, keruangan yang mendidik kita untuk
menjadi pembelajar yang baik. Pembelajar yang arif.
Selamat hari santri.
Bersama Santri damailah negeri.
*) Pegiat Budaya NU Jombang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar