Kamis, 17 Oktober 2024

Pengorganisasian Kesenian di Jombang dalam Upaya Rekontruksi, Revitalisasi, dan Eksperimentasi Kesenian*)

 Oleh : Inswiardi

 

Terima kasih yang mendalam kami sampaikan kepada Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, Dan Olah Raga Kabupaten Jombang, atas kesempatan membagi pengetahuan dalam proses pembangunan kebudayaan di Kabupaten jombang. Tema Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Eksperimentasi Kesenian, bagi saya sangat tepat dikarenakan tiga hal diatas adalah upaya yang saling terkait. Diujung pemahaman saya, ketiga proses diatas pasti berdiri pada sebuah objek. Objek tersebut tidak lain adalah pelaku kesenian maupun hasil dari ekspresi sang pelaku.

Dengan fakta seperti itu, ada dua hal yang saya tangkap , pertama, dari sekian prioritas pembangunan di kabupaten Jombang, sudahkah aspek pengembangan kesenian dianggap penting dan dibutuhkan? Kedua, peran – peran sinergis apa yang telah dibuat oleh pemerintah kabupaten Jombang di dalam menyusun cetak biru pengembangan kesenian? Untuk menjawab pertanyaan di atas, marilah kita melongok sebentar kepada perjalanan pengorganisasian kesenian di Jombang.

 

MERDEKA DARI RASA CEMBURU

 (CATATAN KAKI DISKUSI FUNGSI DAN PERAN BUMDES SEBAGAI JALAN KEMANDIRIAN DESA

OLEH PT.USAHA DESA JOGYAKARTA)

 

 

Ternyata tidak salah ungkapan yang mengatakan bahwa energi yang tidak pernah habis adalah kreativitas. Meski anugerah corona  menyisakan khawatir dan penuh sangka, jangan pernah salah, bahagia tetap punya jalan bagi orang- orang yang tidak pernah menyerah menempa cinta sesama manusia. Kelas bisnis online menjadi salah satu buktinya.

 

KUBE : DIANTARA MIMPI DAN JEJAK KAKI

 Oleh Inswiardi

 

Paradigma baru pembangunan kesejahteraan sosial di  Indonesia,  khususnya pada program perlindungan sosial,  hendaklah  memberikan artikulasi  kuat kepada proses services empowerment (layanan pemberdayaan).  Dengan kata lain,  untuk menciptakan kesejahteraan sosial, akan selalu berdampingan  linier dengan upaya mempertahankan sumber-sumber penghasilan masyarakat miskin, penciptaan potensi lapangan pekerjaan baru  masyarakat miskin, serta kerja nyata pemberdayaan.

 

Tiga  hal ini  menggelitik saya untuk menoleh kebelakang, menganyam kembali kalimat –kalimat Hj. Munjidah Wahab (Bupati Jombang periode 2018-2023),   dalam Pidato Rapat Penyusunan Rencana Kerja OPD dan sinkronisasi RPJMD, tanggal 5 Oktober 2018 di Ruang Swagata Pendopo Kabupaten Jombang. Secara tersirat, Beliau menekankan bahwa semua gerak  pembangunan di Jombang, tidak terkecuali pembangunan kesejahteraan sosial, hendaknya dilaksanakan secara terpadu, terukur, dan  berkelanjutan.

 

MEMBACA RUANG KREATIF DI JOMBANG

 Oleh : Inswiardi

 

Kekuatan kreatif dalam pandangan saya, selalu bersifat personal dan mendukung pengembangan individu dalam mencapai sesuatu. Kalo saya andaikan, kreatif itu ibarat daya  yang melekat dalam pribadi seseorang. Daya  itu hadir, ada, dan bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk capaian. Dalam The Power, Rhonda Byrne menyampaikan bahwa daya kebahagiaan, kebaikan, dan apa pun yang kita butuhkan dalam hidup terdapat dalam diri kita semua. Daya itu sudah ada. Daya yang tak terbatas.

Saya jadi teringat ketika pembukaan worksop Branding Gagasan Kreatif Audio Vidio di hotel Front One Inn tanggal 22 Oktober lalu, Pak Indra Tirtana sebagai salah satu mentor, menyampaikan bahwa kreativitas merupakan sumberdaya yang tidak habis digali. Inilah yang akan dijadikan titik balik diskusi pada hari ini.

MENJUMPUT PAHLAWAN DALAM KESUNYIAN

 Oleh: Inswiardi

 Yang saya cintai segenap Pimpinan Nahdlatul Ulama;

Yang saya hormati Saudara Fatoni Mahsun sebagai “ Pahlawan “ yang hari ini bersuka cita memberikan seperangkat pengetahuan, yang bisa menjadikan kita Pahlawan pada masa dan keadaan yang kita tidak pernah tahu. Karena kita tak pernah mampu mengejar bayang kita, dan pikir tak pasti bersua takdir, disebab kegaiban Yang Kuasa.

Sebuah kehormatan bagi saya, hadir dan dipercaya menjadi pembanding dalam diskusi bedah buku novel berjudul Perang Jombang. Tidak mudah bagi saya memahami makna pembanding dalam forum ini. Di mata saya, buku ini begitu istimewa. Saya harus bandingkan dengan apa?  Bagaimana saya harus membandingkannya? Dan pertanyaan mendasar, maukah saudara Fatoni Mahsun dibanding-bandingkan? Mohon maaf, saya tidak sanggup.

Bunga Kopi Dan Setangkup Imaji

 “Kawanku, hujan belum lama mengguyur. Tanah-tanah belum sepenuhnya basah,  karena air terlanjur melesap sebab kerontang yang panjang.  Tapi itu semua tidak mengurangi syukur  segenap alam. Seperti tarian asap dupa gaharu, akar –akar tanaman bergeriyap. Dedaunan bersemu merah, laksana gadis belia  dipuja cinta. Dan tangkai tangkai kopi yang kokoh, tertahan hasrat yang muncrat berdesakan  membagi cinta. Aku yakin, tak lama lagi  kuncup kuncup bunga kopi akan bersemi. Dan aku lebih yakin,  kota ini akan begitu acuh, tak peduli kepada wangi bunga kopi.

Bagiku, wangi bunga kopi seperti jeratan yang penuh misteri. Wanginya begitu dalam, menusuk hingga tulang kepala. Ingatan pun berdenyut-denyut membayang aneka rupa.

Kawanku, aku yakin engkau masih ingat, ketika kita menjemput Nasir, teman kuliah kita dari Surabaya. Kita berboncengan tiga. Karena  hampir gelap, engkau memacu sepedamu dengan kencang. Saat melintas di kebun Pak Samsi, Nasir hampir melompat dari sepeda. Ia sangat ketakutan. Apalagi ketika tahu ekspresi kita yang datar-datar saja. Ia semakin ketakutan, yakin bahwa ia telah diikuti sejenis pocong penunggu kebun yang menebarkan aroma wangi. Tawa kita hampir meledak waktu itu.

ASISAHKU SAYANG ASISAHKU MALANG

 Oleh: Inswiardi

 

Membayangkan nama Wonosalam,  lipatan ingatan kita pasti bertemu dengan  dua hal, yakni pegunungan dan nikmatnya durian. Namun sejatinya tidak hanya itu. Banyak kisah-kisah luar biasa tentang Wonosalam yang bisa kita pungut. Salah satu kisah yang tidak bisa dipandang kecil adalah cerita tentang kopi. Berikut ini catatan kami tentang kisah kopi di Kabupaten Jombang, khususnya Wonosalam.

Sebuah mobil grand livina hitam tampak berhenti mendadak, tepat di depan sebuah kafe kopi  di pusat  kota Jombang. Kafe ini tidak terlalu besar bangunannya. Sekitar 5 meter kali 10 meter. Areal parkirnya pun tidak terlalu luas. Tetapi pengunjungnya silih berganti. Dengan motto berbagi kisah kopi Indonesia, kepenatan-kepenatan serasa luluh bersama secangkir kopi dan sahabat-sahabat yang doyan diskusi.  Dan malam itu, saya sengaja memesan kopi Gayo Aceh. Dalam benak saya, tak ada salahnya memanjakan lidah dengan citarasa kopi yang berasal dari tempat yang jauh, Gayo Aceh. Ada sedikit rasa penasaran ketika memilih kopi berjenis Arabica tersebut.

Pengorganisasian Kesenian di Jombang dalam Upaya Rekontruksi, Revitalisasi, dan Eksperimentasi Kesenian*)

  Oleh : Inswiardi   Terima kasih yang mendalam kami sampaikan kepada Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, Dan Olah Raga Kabupaten Jomb...