(CATATAN KAKI DISKUSI FUNGSI DAN PERAN BUMDES SEBAGAI JALAN KEMANDIRIAN DESA
OLEH
PT.USAHA DESA JOGYAKARTA)
Ternyata tidak salah ungkapan yang mengatakan bahwa energi yang
tidak pernah habis adalah kreativitas. Meski anugerah corona menyisakan khawatir dan penuh sangka, jangan pernah salah, bahagia tetap punya
jalan bagi orang- orang yang tidak pernah menyerah menempa cinta sesama manusia. Kelas
bisnis online menjadi salah satu buktinya.
Seperti yang
terjadi Rabu, 22 April 2020 parohari, PT.Usaha Desa bekerjasama dengan Asosiasi Pondok Pesantren Desa Sejahtera
Astra membuka sesi 5 kelas online mereka, untuk memberikan semangat kepada
stakeholder pengembangan desa di Indonesia. Diskusi diikuti 200
orang, menghadirkan 3 pemantik berkelas.
Bima Krida dari Jakarta, salah satu perwakilan Astra. Indra D. Hartanto, sociopreuneur dari Pesantren Al
Azhar Aslich Mughny Malang, serta Sariyanto, S.Pd selaku Ketua Persatuan
BUMDES Seluruh Indonesia dari Jogyakarta.
Bima Krida membuka cakrawala diskusi dengan menampilkan fakta Program Desa
Sejahtera Astra (DSA) merupakan wujud pengembangan desa. Program yang bersinergi Kementerian Desa ini, telah memberikan kontribusi kepada 645
Desa di Indonesia. Dari angka tersebut, 99 Desa telah membangun jejaring pengembangan bersama 18
Pesantren.
Masih menurut Bima, program
ini di desain secara partispatif dan berkelanjutan. Untuk mendorong semangat penerima program, kami telah menyiapkan
formula berjenjang, mulai dari tahapan Bintang 1, Bintang 2,
atau Bintang 3. Pencapaian posisi paling baik,
menjadi harapan semua stakeholder program.
Diskusi dilanjutkan dengan pemantik kedua yang tidak kalah berbobot. Indra D. Hartanto, salah satu desainer program DSA Pesantren. Yang unik, Indra D.Hartanto justru memilih keluar dari Astra
demi “menerjunkan dirinya” (meminjam istilah Mas Indra disebuah diskusi) untuk membuktikan konsep DSA
Pesantren yang beliau susun.
Memilih member jarak antara dirinya dan
Astra, bukanlah perkara mudah. Butuh nyali besar dan mental tangguh. Walhasil beliau tertantang menguji konsep DSA
Pesantren di Pondok Pesantren Al Azhar Aslich Mugny Wajak Malang. Salut buat Mas Indra. Indonesia merindukan pemuda-pemuda
yang tak hanya piawai di konsep, namun matang dalam kerja.
Dalam paparannya, satu hal yang
beliau tekankan, bahwa Pesantren adalah organisasi kelembagaan yang usianya, lebih tua dari negara
ini. Karena itu, Pesantren pasti mempunyai kekuatan tumbuh berakar yang kuat dan unik. Sehingga peran – peran Pesantren di
masyarakat akan menjadi tiang penyangga yang kokoh selain Desa.
Lantas apa kunci menuju kesana? Ada
tigahal yang beliau sampaikan beserta deretan contoh keberhasilan DSA Pesantren yang beliau ampu. Pertama, Sinergi Inovasi.
Kedua, penguatan kelembagaan ekonomi pesantren melalui BUMTREN. Dan ketiga, Sociopreuneur Pesantren. Sifat kekinian dari hasil kerja Indra D.
Hartanto sangat nampak, salah satunya aplikasi Growdesa, menarik untuk diulik.
Gayung bersambut, di
sesi terakhir, pemantik diskusi ketiga adalah Saudara Sariyanto yang akrab disapa Mas Yanto.
Beliau adalah Ketua Umum Persatuan BUMDES Indonesia. Sesi ini menukik, masuk langsung kearah ketahanan usaha. Dan Mas
Yanto, tanpa basa basi langsung menjelaskan bagaimana BUMDES Maju Mandiri Desa Bejiharjo Yogyakarta tetap eksis di tengah pembatasan
social seperti saat ini. Beliau menyampaikan lima strategi yang dipakai.
Pertama, mereka melakukan evaluasi ulang dan
merencanakan kembali usahanya. Kedua, Melakukan analisa ulang terhadap daya dukung yang ada, seperti jenis produk dan
segmen pasarnya. Ketiga, melakukan identifikasi jaringan pasar terdekat
yang bias dijangkau. Keempat, melakukan inovasi, baik sisi jenis, cara,
hingga teknis penjualan, semuanya h arus berinovasi untuk bias bertahan hari ini. Ter akhir, adalah melakukan analisa atau pemetaan kebutuhan masyarakat di
saat pandemic berlangsung.
Untuk menuju perubahan
proses diatas, tentunya bukan perkara ringan, mengingat BUMDES se Indonesia kondisinya beragam. Ada
yang baru merintis, berjalan,
berkembang, bahkan ada yang sudah sangat mapan. Lantas apa yang menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan kelima strategi tersebut?
Dengan ekspresi datar namun penuh keyakinan, Mas Yanto, menjawab pertanyaan ini dengan dua kata
penting, Jiwa Kewirausahaan. Dengan bekal tersebut, semuanya bias satu frekwensi dalam melihat potensi yang
dimiliki. Semuanya diajak melakukan analisa. Mendorong proses partisipasi bertumbuh, serta membagi peran di
lapangan.
Kalo soal spirit?
Pertanyaan ini sederhana tetapi benar-benar masuk kejantung pertahanan terdalam. Pandangan Mas Yanto sedikit menerawang dengan hiasan kerut dahi, justru makin Nampak optimis mendengar pertanyaan ini. Sembari menarik nafas perlahan,
beliau menjelaskan, bahwa ditengah situasi yang tidak menentu seperti ini, mereka telah bersepakat,
melihat situasi ini dalam interval waktu yang panjang. Setidaknya kami meletakkan batas pandang sampai bulan Desember 2020.
Dengan rentang yang panjang,
kami bias menyiapkan usaha-usaha alternative yang dinamis.Karena itu kreatifitas adalah kata
kuncinya. Usaha-usaha alternative harus bermuara kepada pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat. Yang penting dicatat adalah menjaga konsistensi jiwausaha.
BUMDES adalah tempat untuk berusaha, membangun bisnis.Dalam konteks pembagian peran menghadapi dampak
pandemic, peran utama kami tetap berada dalam rel bisnis. Soal penyaluran bantuan dan
lain-lain, banyak lapisan masyarakat yang bias berbagi peran, tandasnya.
Diskusi juga
mengembang kearah penyertaan modal bagi BUMDES. Menurut Mas Yanto, dalam aturannya,
BUMDES diperbolehkan menerima penyertaan modal dari Pemerintah Desa, dukungan modal dari warga, serta pihak ketiga. Namun demikian,
untuk dukungan modal dari warga dan pihak ketiga, diatur tidak melebihi batas 40 %
dari seluruh kebutuhan BUMDES tersebut.
Seluruh penyertaan
modal diatas, telah disiapkan teknis pemanfaatannya, ada yang dikelola langsung, dengan pembagian keuntungan sesuai kesepakatan diawal. Dan
ada yang bersifat kemitraan, dengan pembagian keuntungan bagi hasil.
Disarankan oleh Mas Yanto, jika menginginkan BUMDES cepat berkembang, maka strategi kemitraan menjadi pilihan yang
efektif.
Senja makin tak terasa, tetapi diskusi semakin hangat. Semua tidak lepas dari peran
moderator yang cakap dalam membagi sesi dan pembahasan. Di penghujung diulik juga, bagaimana strategi menjaga
Kawasan penyangga usaha BUMDES Maju Mandiri.
Dengan perkembangan usaha yang
pesat di Kawasan Wisata Goa Pindul Yogyakarta, maka konflik social menjadi
factor bertumbuh yang bagus. Dikatakan demikan, karena mereka mempunyai catatan detail
tentang peta-peta konflik tersebut. Tujuan identifikasi konflik, agar mereka semakin memahami masalah yang
harus diselesaikan.
Dalam situasi ini, BUMDES
mengambil peran sebagai fasilitator. Kami membangun system bagi kelompok penyangga. Dimulai dari jenis peran yang bias dimasuki,
standar teknis operasionalnya, perjanjian kerjasama, hingga perlindungan hukumnya. Semuanya dilakukan secara terbuka,
partisipatif, dan sesuai alur.
Mengikuti diskusi dari awal sampai akhir, serasa melihat ulang drama satire sisipus kembali. Atau menapaki semangat Quwais Al
Qorni yang begitu gigih meletakkan cinta di kaki Ibunya. Disaat banyak orang berebut
status terdampak wabah, demi sebuah bantuan, saya justru melihat teman-teman sepert itidak memiliki kecemburuan sedikitpun.
Tetap melangkah, berpikir kreatif, berjejaring melayani masyarakat.
Tulisan ini saya dedikasikan buat Mas Bima,
Mas Indra, Mas Yanto, dan teman-teman peserta diskusi. Salam hormat buat semuanya.
Salam.
Jombang, 27 April 2020
Inswiardi
Pendamping
social desa, tinggal di Jombang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar