Kamis, 17 Oktober 2024

KUBE : DIANTARA MIMPI DAN JEJAK KAKI

 Oleh Inswiardi

 

Paradigma baru pembangunan kesejahteraan sosial di  Indonesia,  khususnya pada program perlindungan sosial,  hendaklah  memberikan artikulasi  kuat kepada proses services empowerment (layanan pemberdayaan).  Dengan kata lain,  untuk menciptakan kesejahteraan sosial, akan selalu berdampingan  linier dengan upaya mempertahankan sumber-sumber penghasilan masyarakat miskin, penciptaan potensi lapangan pekerjaan baru  masyarakat miskin, serta kerja nyata pemberdayaan.

 

Tiga  hal ini  menggelitik saya untuk menoleh kebelakang, menganyam kembali kalimat –kalimat Hj. Munjidah Wahab (Bupati Jombang periode 2018-2023),   dalam Pidato Rapat Penyusunan Rencana Kerja OPD dan sinkronisasi RPJMD, tanggal 5 Oktober 2018 di Ruang Swagata Pendopo Kabupaten Jombang. Secara tersirat, Beliau menekankan bahwa semua gerak  pembangunan di Jombang, tidak terkecuali pembangunan kesejahteraan sosial, hendaknya dilaksanakan secara terpadu, terukur, dan  berkelanjutan.

 

Sebagai titik pijak tujuan besar ini, maka hal yang diperhatikan secara serius oleh Pemerintah Kabupaten adalah, terciptanya  Data Base Terpadu Pembangunan Kesejahteraan Sosial. Data Base Terpadu Kabupaten Jombang, akan memberikan gambaran tentang kejelasan sasaran program pembangunan kesejahteraan sosial. Identifikasi tingkat kemiskinan penerima program, jenis bantuan yang diterima, serta potensi ekonomi yang bisa dikembangkan.

Membincang proses keterukuran pembangunan kesejahteraan sosial di Kabupaten Jombang, maka ada beberapa contoh menarik yang bisa saya sampaikan melalui tulisan ini. Ambil contoh tentang potensi Kelompok Usaha Bersama atau KUBE yang ada di dalam program PKH.

Tahun 2014, saya mendapat tugas dari Kepala Bidang Rehabbansos,  menganalisa data lapangan pekerjaan peserta PKH dan pilihan Jenis Kube yang diajukan kelompok PKH untuk mendapatkan support dari Dinas Sosial Kabupaten Jombang ( waktu itu masih bernama Dinsonakertrans). Tahun 2014, jumlah KUBE yang dibentuk secara mandiri oleh pendamping PKH dan dilaporkan ke Dinas Sosial sebanyak 38 kelompok. Data ini terdiri dari 26 Kube bidang perdagangan, 8 Kube bidang  peternakan, dan 4 Kube bidang jasa.

Benarkah Kube ini lahir dari dorongan pendamping mengawal embrio pemberdayaan lapangan pekerjaan peserta PKH? Pertanyaan inilah yang ingin diketahui. Langkah awal yang dilakukan untuk proses analisa adalah mengambil data  tentang lapangan pekerjaan peserta PKH yang sudah dikumpulkan oleh Pendamping PKH pada tahun 2013. Untuk proses analisa ini, hanya diambil  8240  sampling data. Data tersebut, kemudian kami  susun  terpilah, laki-laki dan perempuan rumah tangga sangat miskin. Yang di potret adalah potensi lapangan pekerjaan mereka dan potensi usaha yang bisa dikembangkan.

 

Dari data 8240  responden, diperoleh 80 jenis lapangan pekerjaan rumah tangga sangat miskin. Setelah  mencermati dan memilah secara seksama, akhirnya 80 jenis lapangan pekerjaan tersebut berhasil dikelompokkan ke dalam 5  sektor utama. Pertama, sektor pertanian. Kedua sektor peternakan. Ketiga, sektor Perdagangan. Keempat, sektor Jasa. Dan kelima adalah lain-lain.

 

Dari lima sektor tersebut, sektor pertanian menyumbang angka terbesar, yakni 4521 responden. Di sektor ini 100 persen didominasi buruh tani. Data terpilahnya 2304 laki-laki dan 2217 perempuan. Data tersebut memberikan gambaran,  laki laki maupun perempuan yang bekerja di sektor pertanian mempunyai peluang yang kecil untuk berkembang menjadi petani mandiri.  Asumsi ini dipengaruhi oleh  ketiadaan daya dukung kepemilikan lahan. Ketika mereka belum mempunyai lahan sendiri, maka pilihan pekerjaan yang bisa diambil  hanyalah sebagai  buruh tani.

 

Sedangkan pada sektor Peternakan terdapat 762 responden dengan komposisi terpilah 492  didominasi perempuan, dan 270 kaum pria. Perempuan lebih banyak dari laki-laki dikarenakan pada sektor peternakan yang berkembang di rumah tangga sangat miskin, lebih banyak dikuasai jenis ternak kecil seperti kambing, kelinci, perikanan darat,  serta aneka unggas. Nota bene jenis hewan seperti diatas banyak dikembangkan oleh ibu ibu sebagai sampingan di rumah. Sedangkan hewan ternak besar seperti sapi dan kambing, sebagian besar responden menyatakan maro (bagi hasil).

 

Sementara pada sektor perdagangan, terdapat komposisi 1150 responden, dengan gambaran terpilah 745 responden perempuan dan 405 responden laki-laki. Mengapa laki-laki lebih sedikit? Dikarenakan pada sektor perdagangan, perempuan mempunyai banyak pilihan untuk dikembangkan, seperti berjualan aneka makanan, minuman, warung, kios, sayur, keripik, dll. Sementara laki-laki hanya sedikit pilihan di sisi perdagangan ini.

 

Adapun sektor jasa justru kebalikan sektor perdagangan. Dengan 1700 responden, data terpilah menunjukkan 705 diisi responden perempuan, dan 995 diisi respopnden laki-laki.  Pilihan untuk bekerja di sektor jasa, banyak didominasi kaum laki-laki. Perempuan hanya bekerja di bidang pembantu rumah tangga, buruh pabrik, dan menjahit. Sedangkan laki-laki mempunyai 30 jenis lapangan pekerjaan di sektor jasa.( berdasarkan data jenis lapangan pekerjaan yang diserahkan pendamping ke operator).

 

Dari pemetaan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa sektor yang bisa dikembangkan untuk peserta PKH  (yang nota bene kaum perempuan) hanya dua sektor, yakni peternakan dan perdagangan. Hal ini selaras dengan dengan  jumlah kube yang telah dirintis oleh para pendamping sebanyak  38 kube. Dengan komposisi yang telah disampaikan di awal. Data dari Pendamping PKH,  tentang potensi lapangan pekerjaan data pengajuan Kube dari Kelompok peserta PKH, ternyata 100 persen berbanding lurus.

 

Inilah gambaran yang bisa kami  simpulkan dari proses penanganan pemberdayaan rumah tangga sangat miskin                        dengan menitikberatkan kepada penciptaan potensi kerja di daerahnya sendiri.  Kesimpulannya, dengan data yang valid, kami bisa mengukur bahwa KUBE menjadi salah satu alternatif yang bisa dirintis dan dikembangkan di dampingan PKH, karena bersumber dari potensi  lapangan pekerjaan peserta PKH. Sekaligus menjawab tantangan desain eksit program bagi peserta PKH.

 

 

Jombang, 6 Oktober 2018.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengorganisasian Kesenian di Jombang dalam Upaya Rekontruksi, Revitalisasi, dan Eksperimentasi Kesenian*)

  Oleh : Inswiardi   Terima kasih yang mendalam kami sampaikan kepada Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, Dan Olah Raga Kabupaten Jomb...