Kamis, 17 Oktober 2024

MENJUMPUT PAHLAWAN DALAM KESUNYIAN

 Oleh: Inswiardi

 Yang saya cintai segenap Pimpinan Nahdlatul Ulama;

Yang saya hormati Saudara Fatoni Mahsun sebagai “ Pahlawan “ yang hari ini bersuka cita memberikan seperangkat pengetahuan, yang bisa menjadikan kita Pahlawan pada masa dan keadaan yang kita tidak pernah tahu. Karena kita tak pernah mampu mengejar bayang kita, dan pikir tak pasti bersua takdir, disebab kegaiban Yang Kuasa.

Sebuah kehormatan bagi saya, hadir dan dipercaya menjadi pembanding dalam diskusi bedah buku novel berjudul Perang Jombang. Tidak mudah bagi saya memahami makna pembanding dalam forum ini. Di mata saya, buku ini begitu istimewa. Saya harus bandingkan dengan apa?  Bagaimana saya harus membandingkannya? Dan pertanyaan mendasar, maukah saudara Fatoni Mahsun dibanding-bandingkan? Mohon maaf, saya tidak sanggup.


Akhirnya saya lebih memilh membaca novel ini, dan membiarkan pikiran saya menelusup dalam cakrawala cerita yang di sajikan Penulis. Sesekali mengutuki diri karena kebodohan dan ketidaktahuan menjadikan cerita novel  ini bertumbuh, membelit batang pikiran dan perasaan saya.

Maka, yang bisa saya sajikan dalam forum ini adalah jejak-jejak telusur dalam kisah yang bertumbuh tadi, dan sejumput makna yang bisa dibagi.Tugas saya hanyalah memantulkan yang berpendar dalam novel ini, kepada peserta  forum.

Jujur, saya sangat menikmati kisah dalam novel ini. Apa yang disampaikan para endorcement buku ini, tidaklah meleset. Namun demikian, saya harus tetap berjuang untuk menemukan “ruh” dari keseluruhan kisah. Alhamdulillah, saya dipertemukan satu baris kalimat yang benar-benar inspiratif. Tertulis dalam halaman 122 paragraf kedua.  Kata-katanya hidup dan mewakili suasana batin dari awal hingga akhir.

Dalam titik orang butuh kembali pada kehidupan normal, ternyata ada ruang kosong yang lepas dari perhatian. Kepasrahan yang dibalut ketidakpastian, mudah membuat goyah pendirian. Orang butuh pahlawan.Tak peduli  dari mana datangnya.Yang bisa membuat mereka terbebas dari perang.”

Telah banyak dikupas oleh pegiat sastra,  bahwa penjajahan memberikan sumbangsih gejala atau corak pada karya sastra Indonesia.  Kelicikan dan kerakusan penjajah telah menguras sumber pengetahuan bangsa ini.  Tidak hanya itu, kemanusiaan dan sumber kehidupan juga dikikis habis.Yang tertinggal hanyalah kesunyian.

Dalam sebuah diskusi di pendopo STKIP PGRI Jombang (maaf saya lupa waktunya), budayawan Sinung Janutama dari Jogyakarta,  menyampaikan bahwa tantangan anak bangsa hari ini adalah keberanian dan kemauan untuk membangun kembali kerangka pengetahuan yang bersumber dari nenek moyang kita. Kita harus mampu menyajikan budaya tanding atas teori-teori barat yang menyerbu di depan mata.

Dalam novel ini, corak kesunyian hadir tidak untuk dikutuki, tetapi justru jadi pemicu untuk membangun daya cipta kepahlawanan dalam diri kita. Dimana pemicu itu hadir?

Pertama, pikiran dan imajinasi kita sudah dihantam oleh kenyataan pahit, bagaimana bangsa yang baru merdeka, membangun dan menghidupi tata pemerintahannya hingga tingkat desa. Dan bagaimana pula bangsa ini membiayai serta mencukupi kelembagaan tentaranya. Situasi ini sungguh pahit.

Kedua, bangsa ini juga dihadapkan pada pilihan sulit,  memperkuat ketentaraannya atau ekonomi? Kalau pilihannya adalah memperbanyak tentara,  maka ladang dan ternak harus ditinggalkan. Padahal dua hal tersebut yang menjadi penyangga mobilisasi ekonomi dan pangan semua elemen.

Ketiga, perjanjian-perjanjian antara Belanda dan Indonesia,  tidak menguntungkan Indonesia, ditambah pengingkaran yang berujung penyerbuan,  membuat bangsa kita tidak memiliki pilihan selain berjuang dan berjuang.

Keempat, adalah pergulatan keluar dari situasi faksional di Lembaga ketentaraan, kelasykaran, dan organisasi pejuang lainnya, semakin menambah buram lanskape perjuangan kita.

Kelima, romantisme liris seorang Rukmini yang hadir sayup-sayup, mengalirkan suasana resah dan arti ada dan tiada masa itu.

Terakhir, sekaligus bandul waktu yang terus mengayun, adalah Jombang dengan anugerah poros as, ternyata menyangga beban hidup sebuah negeri bernama Indonesia.

Melihat keseluruhan rasa sunyi diatas, tiada pilihan lain, bandul jam harus terus berayun. Waktu adalah anugerah terbaik.Setiap ayunannya harus menghadirkan sosok pahlawan. Pahlawan dalam arti sebuah sosok, momentum, maupun nilai. Pantulan-pantulan dalam novel ini masih sangat relevan dalam kehidupan kekinian.

Salah satunya dijumpai dalam spirit hidup Mbah Wahab Chasbulloh. Disampaikan oleh Gus Baha, dalam harlah Ponpes Bahrul Ulum, bahwa meneladani Mbah Wahab itu sangat mudah, karena yang diwariskan Beliau adalah arti kesungguhan tanpa pamrih. Sama persis dengan suasana awal bangsa ini membangun kelembagaan pemerintah dan tentaranya. Bersungguh-sungguh,  melihat semua komponen adalah bagian penting sebuah perjalanan waktu, serta tanpa pamrih.

Lantas dimana hubungan kekiniannya? Fase nol adalah kepastian . bagi anak muda yang baru  bekerja, baru menikah, baru memulai usaha, dan sebagainya. Jangan takut dengan fase ini. Pasti ada jalan, karena ada pahlawan dalam diri setiap manusia. Bukankan Tuhan sudah memberikan jalan, berupa Adam, Nabi, Rosul untuk menjadi Pahlawan (baca: Pemimpin) pada masanya. Dan bukankah kita sejatinya adalah gembala, setidaknya atas iman dan keyakinan kita.

Di penutup tulisan ini, saya teringat sebuah istilah di novel tersebut, yakni Pager Desa. Bagaimana kita memberikan arti istilah tersebut, dalam bentang masa lalu, kemarin, dan mendatang. Selamat menjadi PAHLAWAN.

 

Salam Bahagia.

(Tulisan ini disampaikan dalam Bedah Novel Perang Jombang karya Fatoni Mahsun)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengorganisasian Kesenian di Jombang dalam Upaya Rekontruksi, Revitalisasi, dan Eksperimentasi Kesenian*)

  Oleh : Inswiardi   Terima kasih yang mendalam kami sampaikan kepada Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, Dan Olah Raga Kabupaten Jomb...