“Kawanku, hujan belum lama mengguyur. Tanah-tanah belum sepenuhnya basah, karena air terlanjur melesap sebab kerontang yang panjang. Tapi itu semua tidak mengurangi syukur segenap alam. Seperti tarian asap dupa gaharu, akar –akar tanaman bergeriyap. Dedaunan bersemu merah, laksana gadis belia dipuja cinta. Dan tangkai tangkai kopi yang kokoh, tertahan hasrat yang muncrat berdesakan membagi cinta. Aku yakin, tak lama lagi kuncup kuncup bunga kopi akan bersemi. Dan aku lebih yakin, kota ini akan begitu acuh, tak peduli kepada wangi bunga kopi.
Bagiku, wangi bunga kopi seperti jeratan
yang penuh misteri. Wanginya begitu dalam, menusuk hingga tulang kepala.
Ingatan pun berdenyut-denyut membayang aneka rupa.
Kawanku, aku yakin engkau masih ingat,
ketika kita menjemput Nasir, teman kuliah kita dari Surabaya. Kita berboncengan
tiga. Karena hampir gelap, engkau memacu
sepedamu dengan kencang. Saat melintas di kebun Pak Samsi, Nasir hampir
melompat dari sepeda. Ia sangat ketakutan. Apalagi ketika tahu ekspresi kita
yang datar-datar saja. Ia semakin ketakutan, yakin bahwa ia telah diikuti
sejenis pocong penunggu kebun yang menebarkan aroma wangi. Tawa kita hampir
meledak waktu itu.
Kawanku, ada lagi yang tak bisa kuhapus
dari musim bunga kopi kali ini, yakni senandung, “….. slebur-slebur pak mantri dahar bubur, kepanasan mundar mundur keceblung
sumur”. Dito yang paling kecil akan selalu ketakutan ketika ia tertangkap dalam permainan. Lalu dua kelompok seperti ular naga akan berebutan
mencari mangsa teman kita yang berada di barisan belakang untuk dijadikan
anggota barisannya.
Dan kepala ular di depan yang berhasil mendapatkan anggota
barisan terbanyak, akan mengangkat tangan tinggi-tinggi dengan lagak jumawa. Tak
lama kemudian, Tuty yang sekarang menjadi guru di desa sebelah, akan berlarian
kecil mengalungkan untaian bunga kopi yang dirajutnya dengan teman sebayanya.
Terkadang, ketika aku jadi pemenang,
untaian bunga kopi itu, kubawa pulang. Kuletakkan di rak belajarku. Dan
harumnya akan segera tersebar kemana-mana. Tapi saat ini, hampir tidak
kutemukan Tuty – Tuty kecil yang memunguti serakan bunga kopi untuk dirajut.
Tidak kudengar lagi anak-anak berkejaran kala bunga kopi merekah. Anak-anak
banyak berdiam diri di dalam pagar rumah yang sombong. Mereka asyik dengan
mainan baru mereka, sebuah layar kecil, dengan aneka fitur. Mengantar mereka
bebas berselancar diruang yang luas tapi kecil, namun kering dari wewangian apa
pun.
Kawanku, menulis surat ini, menjadikanku
lebih menjadi manusia. Tak perlu kusebut
kenapa, karena kita pernah sama sama mengagumi sosok Hardjono WS. Bahkan kita
kerap berlomba membuat catatan - catatan kecil sepulang ngangsu kaweruh di padepokan beliau. Ku ingat betul, suatu ketika,
engkau memberiku secarik kertas yang bertuliskan “menulislah kalau masih ingin
disebut manusia” dibawahnya tertera tanda tangan tokoh yang sama – sama kita
kagumi. Kertas itu masih kusimpan.
Kawanku, Awal bulan Oktober lalu aku
berkesempatan menyinggahi kotamu, Makasar. Tapi sayang, pintu rumahmu terkunci
rapat. Dari tetangga aku dengar, engkau tengah menuntaskan penelitianmu di ibu
kota. Kuucapkan selamat untuk itu. Akhirnya aku menghabiskan sisa waktu disana
dengan mengejar banyak informasi tentang kopi. Sekedar mencari perbandingan,
antara Toraja, Malino, dan kota kita yang sama-sama penghasil kopi.
Ternyata, aku mendapatkan hikmah luar biasa, justru di sudut
jalan Soba Ompu, di pusat oleh-oleh Makasar yang menyajikan aneka kopi. Sore itu aku menyaksikan
seorang turis manca yang begitu rakus memborong kopi Toraja berjenis Arabica.
Tas serupa koper itu dipenuhinya dengan kopi. Si penjual hanya tersenyum penuh
kemenangan. Dengan bangga ia menjelaskan, bahwa salah satu jaringan bisnis kedai
kopi terkenal di luar negeri, telah merekomendasikan dan menggunakan kopi
Arabica dari Toraja. Menurutnya, citarasa kopi yang ada di cangkir, tidak hanya
ditentukan dari cara menyeduhnya saja, melainkan juga cara memetik kopinya.
Amboi...Kawanku, ingatanku tiba-tiba
meloncat ke hamparan bunga kopi yang sedang mekar di kota kita. Kumbang-kumbang
yang bergembira kesana kemari. Begitu
pula orang tua kita yang terlihat sibuk membuat bubur dengan gula merah untuk
sedekah. Dalam bahagia terselip doa, berharap bunga-bunga kopi akan menjadi
buah yang baik dan menghasilkan panen yang baik pula.
Delapan bulan berselang, ketika kopi mulai
memerah darah, orang tua kita sibuk
memasak makanan untuk selamatan, tanda
dimulainya musim memetik kopi. Engkau tahu sendiri, aku sebagai anak tertua
sering diminta membawa makanan dengan ditutupi daun pisang ke kebun. Beberapa
tetangga kita juga melakukan hal yang
sama. Setelah makanan terkumpul, tetua
desa mulai memimpin doa. Setelah prosesi usai, barulah mereka memulai aktifitas
panen. Dengan tangan yang terampil, mereka memilah dan memetik kopi yang telah menua.
Hanya kopi yang benar – benar tua yang mereka petik. Yang masih hijau
disisihkan oleh mereka.
Kawanku, aku yakin, kekuatan di kebun kopi
kita, tidak hanya kecermatan memetik kopi belaka, tetapi mereka telah jauh menelusup
melalui relung - relung doa yang mereka panjatkan, baik saat bunga kopi mekar
maupun menjelang panen. Doa dan kejujuran dalam memetik adalah sihir bagi rasa kopi kita.
Kawanku, aku berharap musim bunga kopi kali
ini juga sihir bagiku…..karena pagi ini, di tempat tetirah doaku, anakku
bersimpuh dengan tangan mungilnya merajut bunga bunga kopi…….”
Wonosalam, 20 November 2015
Kudedikasikan tulisan ini kepada Ibu Yati (Guru MTsN
Panglungan), Ibu Jiani (Peserta PKH) yang telah sudi membagi kisah masa
kecilnya. Juga kepada semua petani kopi di Wonosalam, yang telah membaktikan
hidupnya di kebun –kebun kopi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar