Kamis, 17 Oktober 2024

Bunga Kopi Dan Setangkup Imaji

 “Kawanku, hujan belum lama mengguyur. Tanah-tanah belum sepenuhnya basah,  karena air terlanjur melesap sebab kerontang yang panjang.  Tapi itu semua tidak mengurangi syukur  segenap alam. Seperti tarian asap dupa gaharu, akar –akar tanaman bergeriyap. Dedaunan bersemu merah, laksana gadis belia  dipuja cinta. Dan tangkai tangkai kopi yang kokoh, tertahan hasrat yang muncrat berdesakan  membagi cinta. Aku yakin, tak lama lagi  kuncup kuncup bunga kopi akan bersemi. Dan aku lebih yakin,  kota ini akan begitu acuh, tak peduli kepada wangi bunga kopi.

Bagiku, wangi bunga kopi seperti jeratan yang penuh misteri. Wanginya begitu dalam, menusuk hingga tulang kepala. Ingatan pun berdenyut-denyut membayang aneka rupa.

Kawanku, aku yakin engkau masih ingat, ketika kita menjemput Nasir, teman kuliah kita dari Surabaya. Kita berboncengan tiga. Karena  hampir gelap, engkau memacu sepedamu dengan kencang. Saat melintas di kebun Pak Samsi, Nasir hampir melompat dari sepeda. Ia sangat ketakutan. Apalagi ketika tahu ekspresi kita yang datar-datar saja. Ia semakin ketakutan, yakin bahwa ia telah diikuti sejenis pocong penunggu kebun yang menebarkan aroma wangi. Tawa kita hampir meledak waktu itu.


Kawanku, ada lagi yang tak bisa kuhapus dari musim bunga kopi kali ini, yakni senandung, “….. slebur-slebur pak mantri dahar bubur, kepanasan mundar mundur keceblung sumur”. Dito yang paling kecil akan selalu ketakutan ketika ia tertangkap  dalam permainan. Lalu  dua kelompok seperti ular naga akan berebutan mencari mangsa teman kita yang berada di barisan belakang untuk dijadikan anggota barisannya.

Dan kepala ular  di depan yang berhasil mendapatkan anggota barisan terbanyak, akan mengangkat tangan tinggi-tinggi dengan lagak jumawa. Tak lama kemudian, Tuty yang sekarang menjadi guru di desa sebelah, akan berlarian kecil mengalungkan untaian bunga kopi yang dirajutnya dengan teman sebayanya.

Terkadang, ketika aku jadi pemenang, untaian bunga kopi itu, kubawa pulang. Kuletakkan di rak belajarku. Dan harumnya akan segera tersebar kemana-mana. Tapi saat ini, hampir tidak kutemukan Tuty – Tuty kecil  yang  memunguti serakan bunga kopi untuk dirajut. Tidak kudengar lagi anak-anak berkejaran kala bunga kopi merekah. Anak-anak banyak berdiam diri di dalam pagar rumah yang sombong. Mereka asyik dengan mainan baru mereka, sebuah layar kecil, dengan aneka fitur. Mengantar mereka bebas berselancar diruang yang luas tapi kecil, namun kering dari wewangian apa pun.

Kawanku, menulis surat ini, menjadikanku lebih menjadi manusia. Tak perlu kusebut kenapa, karena kita pernah sama sama mengagumi sosok Hardjono WS. Bahkan kita kerap berlomba membuat catatan - catatan kecil sepulang ngangsu kaweruh di padepokan beliau. Ku ingat betul, suatu ketika, engkau memberiku secarik kertas yang bertuliskan “menulislah kalau masih ingin disebut manusia” dibawahnya tertera tanda tangan tokoh yang sama – sama kita kagumi. Kertas itu masih kusimpan.

Kawanku, Awal bulan Oktober lalu aku berkesempatan menyinggahi kotamu, Makasar. Tapi sayang, pintu rumahmu terkunci rapat. Dari tetangga aku dengar, engkau tengah menuntaskan penelitianmu di ibu kota. Kuucapkan selamat untuk itu. Akhirnya aku menghabiskan sisa waktu disana dengan mengejar banyak informasi tentang kopi. Sekedar mencari perbandingan, antara Toraja, Malino, dan kota kita yang sama-sama penghasil kopi.

Ternyata, aku  mendapatkan hikmah luar biasa, justru di sudut jalan Soba Ompu, di pusat oleh-oleh Makasar  yang menyajikan aneka kopi. Sore itu aku menyaksikan seorang turis manca yang begitu rakus memborong kopi Toraja berjenis Arabica. Tas serupa koper itu dipenuhinya dengan kopi. Si penjual hanya tersenyum penuh kemenangan. Dengan bangga ia menjelaskan, bahwa salah satu jaringan bisnis kedai kopi terkenal di luar negeri, telah merekomendasikan dan menggunakan kopi Arabica dari Toraja. Menurutnya, citarasa kopi yang ada di cangkir, tidak hanya ditentukan dari cara menyeduhnya saja, melainkan juga cara memetik kopinya.

Amboi...Kawanku, ingatanku tiba-tiba meloncat ke hamparan bunga kopi yang sedang mekar di kota kita. Kumbang-kumbang yang bergembira kesana kemari. Begitu  pula orang tua kita yang terlihat sibuk membuat bubur dengan gula merah untuk sedekah. Dalam bahagia terselip doa, berharap bunga-bunga kopi akan menjadi buah yang baik dan menghasilkan panen yang baik pula.

Delapan bulan berselang, ketika kopi mulai memerah darah, orang tua kita  sibuk memasak makanan untuk selamatan,  tanda dimulainya musim memetik kopi. Engkau tahu sendiri, aku sebagai anak tertua sering diminta membawa makanan dengan ditutupi daun pisang ke kebun. Beberapa tetangga kita  juga melakukan hal yang sama. Setelah makanan terkumpul,  tetua desa mulai memimpin doa. Setelah prosesi usai, barulah mereka memulai aktifitas panen. Dengan tangan yang terampil, mereka memilah dan memetik kopi yang telah menua. Hanya kopi yang benar – benar tua yang mereka petik. Yang masih hijau disisihkan oleh mereka.

Kawanku, aku yakin, kekuatan di kebun kopi kita, tidak hanya kecermatan memetik kopi belaka, tetapi mereka telah jauh menelusup melalui relung - relung doa yang mereka panjatkan, baik saat bunga kopi mekar maupun menjelang panen. Doa dan kejujuran  dalam memetik adalah sihir bagi rasa kopi kita.

Kawanku, aku berharap musim bunga kopi kali ini juga sihir bagiku…..karena pagi ini, di tempat tetirah doaku, anakku bersimpuh dengan tangan mungilnya merajut bunga bunga kopi…….”

 

 

 

 

 

 

 

Wonosalam, 20 November 2015

 

Kudedikasikan tulisan ini kepada Ibu Yati (Guru MTsN Panglungan), Ibu Jiani (Peserta PKH) yang telah sudi membagi kisah masa kecilnya. Juga kepada semua petani kopi di Wonosalam, yang telah membaktikan hidupnya di kebun –kebun kopi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengorganisasian Kesenian di Jombang dalam Upaya Rekontruksi, Revitalisasi, dan Eksperimentasi Kesenian*)

  Oleh : Inswiardi   Terima kasih yang mendalam kami sampaikan kepada Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, Dan Olah Raga Kabupaten Jomb...