Oleh: Inswiardi
Membayangkan nama Wonosalam, lipatan ingatan kita pasti bertemu dengan dua hal, yakni pegunungan dan nikmatnya
durian. Namun sejatinya tidak hanya itu. Banyak kisah-kisah luar biasa tentang
Wonosalam yang bisa kita pungut. Salah satu kisah yang tidak bisa dipandang
kecil adalah cerita tentang kopi. Berikut ini catatan kami tentang kisah kopi
di Kabupaten Jombang, khususnya Wonosalam.
Sebuah mobil grand livina hitam tampak berhenti mendadak,
tepat di depan sebuah kafe kopi di
pusat kota Jombang. Kafe ini tidak
terlalu besar bangunannya. Sekitar 5 meter kali 10 meter. Areal parkirnya pun
tidak terlalu luas. Tetapi pengunjungnya silih berganti. Dengan motto berbagi
kisah kopi Indonesia, kepenatan-kepenatan serasa luluh bersama secangkir kopi
dan sahabat-sahabat yang doyan diskusi. Dan malam itu, saya sengaja memesan kopi Gayo
Aceh. Dalam benak saya, tak ada salahnya memanjakan lidah dengan citarasa kopi yang
berasal dari tempat yang jauh, Gayo Aceh. Ada sedikit rasa penasaran ketika
memilih kopi berjenis Arabica tersebut.
Lima lelaki turun bergegas masuk ke kafe yang menyajikan
aneka kopi nusantara. Saya sebut demikian karena di toples-toples kopi yang tertata di meja display, tertulis
beberapa nama daerah di Indonesia. Ada kopi Gayo Aceh, Kopi Flores, Kopi
Kintamani, Kopi Java Arumanis, dan kopi Sunda. Beberapa nama lainnya, tidak tertangkap jelas oleh mata saya karena
posisi tulisan membelakangi saya. Mungkin terlalu sering dibuka pengunjung yang
penasaran dengan aroma kopinya, sehingga tulisan di toples menjadi berubah arahnya.
Mereka mengambil
tempat duduk di meja sebelah saya, menghadap ke jalan raya. Kemudian salah satu
dari mereka menuju meja pelayanan yang bercampur dengan kasir. Lelaki itu
bertanya, “ Ada kopi Excelca?”
Dengan ramah pelayan menjawab, “Maaf Bapak, tidak ada
kopi Excelca.”Lelaki itu kemudian duduk kembali bersama sama temannya. Sepintas
nampak kekecewaan yang mendalam. Dan sejurus kemudian mereka juga larut dalam
obrolan yang serius seputar kopi Excelca. Hampir 2 jam telinga dan pikiran saya
diteror oleh diskusi mereka.
Ya, Excelca, sebuah nama yang tidak asing lagi. Di
Jombang, khususnya di Wonosalam, yang menjadi basis penanaman kopi ini, nama
Excelca sering disebut dengan Asisah. Sejak awal dibukanya perkebunan kopi di
Wonosalam oleh Belanda, kopi Excelca telah menjadi satu satunya varietas kopi
yang di tanam di perkebunan tersebut. Beberapa pendapat menyebut Kopi Excelca
sekelas dengan kopi Liberika, berbeda varian genetisnya saja. Tentang
kemungkinan ini, menarik kita bahas dalam penelusuran berikutnya.
Ikhwal kapan dimulainya perkebunan kopi di Wonosalam,
tidak banyak yang mengetahuinya. Bahkan
keturunan Sinder perkebunan tersebut, yakni Bapak Winoto pernah menjabat Kepala Desa di area perkebunan tersebut, juga
tidak tahu persis. Informasi seputar kapan perkebunan Belanda pertama kali dibangun, hanya terlacak dari
tulisan Saudara Junaidi, seorang blogger yang pernah menempuh studi di Institut
Pertanian Bogor.
Dalam salah satu tulisannya, beliau menjelaskan bahwa dimungkinkan
perkebunan Belanda telah ada sejak tahun 1861. Angka tahun ini diambil berdasarkan
catatan Alfred Russel Wallace, seorang peneliti biologi dari Inggris, yang
membuat rumusan tentang Garis imajiner Flora dan Fauna di Indonesia, yang
dikenal dengan istilah Garis Wallace .Dalam paparan risetnya, Alfred
Russel Wallace pernah menyebut menyinggahi sebuah perkebunan kopi yang berada
di sekitar lereng pegunungan Anjasmoro. Dari penjelasan ini, dapat diambil
kesimpulan bahwa sejak kehadiran Alfred Russel Wallace pada tahun 1861,
perkebunan itu telah ada.
Oleh Bapak Winoto, juga dijelaskan bahwa perkebunan
Belanda dahulu terdiri dari beberapa blok.
Blok Pengajaran meliputi daerah Jarak dan Pengajaran. Kemudian Blok
Sumber Jahe, meliputi Sambirejo,Mangirejo, dan Segunung. Juga ada Blok Tukum
meliputi daerah Pucangrejo dan Tukum. Selain itu juga Blok Ngembag, yang
memanjang ke barat hingga Wonoasih dan
Ngampungan.
Semua blok ini ditanami kopi, karet, serta tanaman rami.
Kehadiran tanaman karet di perkebunan
ini layak untuk dicermati. Selain tanaman ini merupakan komoditi yang banyak
dibutuhkan, karet juga tanaman vicus yang banyak menyimpan air. Sehingga
perkebunan juga mempunyai peranan penting dalam penyeimbang ekosistim. Tak
heran jika beberapa daerah yang dahulu ditanami karet, saat ini menjadi
penyangga cadangan sumber air yang besar, seperti daerah Segunung, Sumber, Jarak,
Pengajaran,serta Ngampungan.
Ironisnya, seiring waktu berjalan, tanaman karet di
tebang habis. Digantikan tanaman komoditi lainnya, yakni cengkeh. Sedangkan tanaman ini tidak sebaik karet dalam
menyimpan air. Hasilnya bisa dirasakan sendiri saat ini. Di kala musim kemarau
panjang, ketersediaan air semakin berkurang.
Kembali kepada perbincangan tentang perkebunan kopi
Wonosalam. Yang menarik adalah kopi Excelca saat ini hanya menguasai 2 persen
dari perdagangan kopi dunia. Menurut Saudara Muhammad Hasyim, seorang pegiat
kopi di Jombang, dari 2 persen itupun,
kopi Excelca Indonesia tidak nampak
jejaknya di bursa perdagangan kopi dunia. Hal ini disebabkan dua faktor,
pertama, kapasitas produksi yang memang kecil, kedua dikarenakan produksi kopi
Excelca dari Indonesia masuk melalui tengkulak di Malaysia dan Singapura.
Masih menurut Muhamad Hasyim, Kopi Excelca di Indonesia
hanya di jumpai di dua tempat, pertama perkebunan kopi di Tanjung Jabung Barat
Propinsi Jambi dan perkebunan kopi Wonosalam, Jombang, Propinsi Jawa Timur.
Daerah Tanjung Jabung Barat adalah sebuah Kabupaten di Propinsi Jambi yang
daerahnya membentang dari Taman nasional Bukit Tiga Puluh hingga darah pantai
Kuala Tungkal. Kopi Excelca di propinsi Jambi ini bukan tanpa tantangan.
Konversi budidaya ke kelapa sawit menjadi persoalan serius di depan mata.
Di Perkebunan kopi Wonosalam juga tidak berbeda jauh
nasibnya dengan di Jambi. Tanaman kopi jenis Excelca telah banyak yang
dipangkas, diambil batang bawahnya, kemudian disambung dengan Kopi Robusta. Aktifitas
seperti ini telah berlangsung sejak tahun 1988. Akhirnyayang tersisa hanya
beberapa pohon di depan rumah dan di
kebun mereka. Dan pesohor yang satu ini, harus rela beralih sebutan, yang dahulu menjadi kopi
perkebunan, sekarang hanya disebut sebagai kopi kebun.
Padahal harga kopi Excelca di pasar domestik dan
internasional masih cukup menggiurkan. Sangat sepadan dengan rasa dan aroma
yang ditawarkan. Junaidi dalam blog nya menyebut aroma dan rasa kopi Excelca
sungguh “seksi”. Saudara Tamsil, pegiat kopi dari Bandung, menyebut kopi ini
sangat gurih. Begitu pula Bapak Winoto, yang sehari-hari bergelut sebagai
petani kopi, mendeskripsikan aroma kopi
Excelca dengan istilah harum. Dan hampir semua pelaku kopi di Indonesia,
menyebut rasa dan aroma kopi Excelca ini unik, karena perpaduan berbagai
rasa. Pahit yang khas, sepet, kecut,
harum, dan gurih. Benar-benar cita rasayang seksi tiada duanya (meminjam
istilah Saudara Junaidi).
Pertanyaan yang menggelayut kemudian adalah, “ Kalau kopi
ini benar benar hadir dengan cita rasa yang menggiurkan, harga yang fantastis, serta
menjadi satu-satunya daerah yang memiliki komoditi ini (selain jambi),mengapa
beberapa kedai di Kota Jombang malah tidak mengenal kopi Excelca? Mengapa
Pemerintah Kabupaten tidak menjadikan kopi ini sebuah ikon? Mengapa petani kopi
tidak kita ajak bangkit kembali menanam kopi ini? Mengapa, mengapa,
mengapa.......inilah yang benar-benar menjadi teror pikiran saya. Bagaimana
dengan Anda?
Jombang,
17 Juni 2015
(Tulisan ini pernah
dimuat diMajalah Suara Pendidikan edisi Juni 2015)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar