Kamis, 17 Oktober 2024

ASISAHKU SAYANG ASISAHKU MALANG

 Oleh: Inswiardi

 

Membayangkan nama Wonosalam,  lipatan ingatan kita pasti bertemu dengan  dua hal, yakni pegunungan dan nikmatnya durian. Namun sejatinya tidak hanya itu. Banyak kisah-kisah luar biasa tentang Wonosalam yang bisa kita pungut. Salah satu kisah yang tidak bisa dipandang kecil adalah cerita tentang kopi. Berikut ini catatan kami tentang kisah kopi di Kabupaten Jombang, khususnya Wonosalam.

Sebuah mobil grand livina hitam tampak berhenti mendadak, tepat di depan sebuah kafe kopi  di pusat  kota Jombang. Kafe ini tidak terlalu besar bangunannya. Sekitar 5 meter kali 10 meter. Areal parkirnya pun tidak terlalu luas. Tetapi pengunjungnya silih berganti. Dengan motto berbagi kisah kopi Indonesia, kepenatan-kepenatan serasa luluh bersama secangkir kopi dan sahabat-sahabat yang doyan diskusi.  Dan malam itu, saya sengaja memesan kopi Gayo Aceh. Dalam benak saya, tak ada salahnya memanjakan lidah dengan citarasa kopi yang berasal dari tempat yang jauh, Gayo Aceh. Ada sedikit rasa penasaran ketika memilih kopi berjenis Arabica tersebut.


Lima lelaki turun bergegas masuk ke kafe yang menyajikan aneka kopi nusantara. Saya sebut demikian karena di toples-toples kopi  yang tertata di meja display, tertulis beberapa nama daerah di Indonesia. Ada kopi Gayo Aceh, Kopi Flores, Kopi Kintamani, Kopi Java Arumanis, dan kopi Sunda. Beberapa nama lainnya,  tidak tertangkap jelas oleh mata saya karena posisi tulisan membelakangi saya. Mungkin terlalu sering dibuka pengunjung yang penasaran dengan aroma kopinya, sehingga tulisan di toples menjadi berubah arahnya.

Mereka  mengambil tempat duduk di meja sebelah saya, menghadap ke jalan raya. Kemudian salah satu dari mereka menuju meja pelayanan yang bercampur dengan kasir. Lelaki itu bertanya, “ Ada kopi Excelca?”

Dengan ramah pelayan menjawab, “Maaf Bapak, tidak ada kopi Excelca.”Lelaki itu kemudian duduk kembali bersama sama temannya. Sepintas nampak kekecewaan yang mendalam. Dan sejurus kemudian mereka juga larut dalam obrolan yang serius seputar kopi Excelca. Hampir 2 jam telinga dan pikiran saya diteror oleh diskusi mereka.

Ya, Excelca, sebuah nama yang tidak asing lagi. Di Jombang, khususnya di Wonosalam, yang menjadi basis penanaman kopi ini, nama Excelca sering disebut dengan Asisah. Sejak awal dibukanya perkebunan kopi di Wonosalam oleh Belanda, kopi Excelca telah menjadi satu satunya varietas kopi yang di tanam di perkebunan tersebut. Beberapa pendapat menyebut Kopi Excelca sekelas dengan kopi Liberika, berbeda varian genetisnya saja. Tentang kemungkinan ini, menarik kita bahas dalam penelusuran berikutnya.

Ikhwal kapan dimulainya perkebunan kopi di Wonosalam, tidak banyak yang mengetahuinya.  Bahkan keturunan Sinder perkebunan tersebut, yakni Bapak Winoto  pernah menjabat  Kepala Desa di area perkebunan tersebut, juga tidak tahu persis. Informasi seputar kapan perkebunan Belanda  pertama kali dibangun, hanya terlacak dari tulisan Saudara Junaidi, seorang blogger yang pernah menempuh studi di Institut Pertanian Bogor.

Dalam salah satu tulisannya, beliau menjelaskan bahwa dimungkinkan perkebunan Belanda telah ada sejak tahun 1861. Angka tahun ini diambil berdasarkan catatan Alfred Russel Wallace, seorang peneliti biologi dari Inggris, yang membuat rumusan tentang Garis imajiner Flora dan Fauna di Indonesia, yang dikenal  dengan istilah Garis  Wallace .Dalam paparan risetnya, Alfred Russel Wallace pernah menyebut menyinggahi sebuah perkebunan kopi yang berada di sekitar lereng pegunungan Anjasmoro. Dari penjelasan ini, dapat diambil kesimpulan bahwa sejak kehadiran Alfred Russel Wallace pada tahun 1861, perkebunan itu telah ada.

Oleh Bapak Winoto, juga dijelaskan bahwa perkebunan Belanda dahulu terdiri dari beberapa blok.  Blok Pengajaran meliputi daerah Jarak dan Pengajaran. Kemudian Blok Sumber Jahe, meliputi Sambirejo,Mangirejo, dan Segunung. Juga ada Blok Tukum meliputi daerah Pucangrejo dan Tukum. Selain itu juga Blok Ngembag, yang memanjang ke barat hingga  Wonoasih dan Ngampungan.

Semua blok ini ditanami kopi, karet, serta tanaman rami. Kehadiran tanaman karet di  perkebunan ini layak untuk dicermati. Selain tanaman ini merupakan komoditi yang banyak dibutuhkan, karet juga tanaman vicus yang banyak menyimpan air. Sehingga perkebunan juga mempunyai peranan penting dalam penyeimbang ekosistim. Tak heran jika beberapa daerah yang dahulu ditanami karet, saat ini menjadi penyangga cadangan sumber air yang besar, seperti daerah Segunung, Sumber, Jarak, Pengajaran,serta Ngampungan.

Ironisnya, seiring waktu berjalan, tanaman karet di tebang habis. Digantikan tanaman komoditi lainnya, yakni cengkeh.  Sedangkan tanaman ini tidak sebaik karet dalam menyimpan air. Hasilnya bisa dirasakan sendiri saat ini. Di kala musim kemarau panjang, ketersediaan air semakin berkurang.

Kembali kepada perbincangan tentang perkebunan kopi Wonosalam. Yang menarik adalah kopi Excelca saat ini hanya menguasai 2 persen dari perdagangan kopi dunia. Menurut Saudara Muhammad Hasyim, seorang pegiat kopi di Jombang,  dari 2 persen itupun, kopi Excelca  Indonesia tidak nampak jejaknya di bursa perdagangan kopi dunia. Hal ini disebabkan dua faktor, pertama, kapasitas produksi yang memang kecil, kedua dikarenakan produksi kopi Excelca dari Indonesia masuk melalui tengkulak di Malaysia dan Singapura.

Masih menurut Muhamad Hasyim, Kopi Excelca di Indonesia hanya di jumpai di dua tempat, pertama perkebunan kopi di Tanjung Jabung Barat Propinsi Jambi dan perkebunan kopi Wonosalam, Jombang, Propinsi Jawa Timur. Daerah Tanjung Jabung Barat adalah sebuah Kabupaten di Propinsi Jambi yang daerahnya membentang dari Taman nasional Bukit Tiga Puluh hingga darah pantai Kuala Tungkal. Kopi Excelca di propinsi Jambi ini bukan tanpa tantangan. Konversi budidaya ke kelapa sawit menjadi persoalan serius di depan mata.

Di Perkebunan kopi Wonosalam juga tidak berbeda jauh nasibnya dengan di Jambi. Tanaman kopi jenis Excelca telah banyak yang dipangkas, diambil batang bawahnya, kemudian disambung dengan Kopi Robusta. Aktifitas seperti ini telah berlangsung sejak tahun 1988. Akhirnyayang tersisa hanya beberapa pohon  di depan rumah dan di kebun mereka. Dan pesohor yang satu ini, harus rela  beralih sebutan, yang dahulu menjadi kopi perkebunan, sekarang hanya disebut sebagai kopi kebun.

Padahal harga kopi Excelca di pasar domestik dan internasional masih cukup menggiurkan. Sangat sepadan dengan rasa dan aroma yang ditawarkan. Junaidi dalam blog nya menyebut aroma dan rasa kopi Excelca sungguh “seksi”. Saudara Tamsil, pegiat kopi dari Bandung, menyebut kopi ini sangat gurih. Begitu pula Bapak Winoto, yang sehari-hari bergelut sebagai petani  kopi, mendeskripsikan aroma kopi Excelca dengan istilah harum. Dan hampir semua pelaku kopi di Indonesia, menyebut rasa dan aroma kopi Excelca ini unik, karena perpaduan berbagai rasa.  Pahit yang khas, sepet, kecut, harum, dan gurih. Benar-benar cita rasayang seksi tiada duanya (meminjam istilah Saudara Junaidi).

Pertanyaan yang menggelayut kemudian adalah, “ Kalau kopi ini benar benar hadir dengan cita rasa yang menggiurkan, harga yang fantastis, serta menjadi satu-satunya daerah yang memiliki komoditi ini (selain jambi),mengapa beberapa kedai di Kota Jombang malah tidak mengenal kopi Excelca? Mengapa Pemerintah Kabupaten tidak menjadikan kopi ini sebuah ikon? Mengapa petani kopi tidak kita ajak bangkit kembali menanam kopi ini? Mengapa, mengapa, mengapa.......inilah yang benar-benar menjadi teror pikiran saya. Bagaimana dengan Anda?

 

 

Jombang, 17 Juni 2015

(Tulisan ini pernah dimuat diMajalah Suara Pendidikan edisi Juni 2015)

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengorganisasian Kesenian di Jombang dalam Upaya Rekontruksi, Revitalisasi, dan Eksperimentasi Kesenian*)

  Oleh : Inswiardi   Terima kasih yang mendalam kami sampaikan kepada Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, Dan Olah Raga Kabupaten Jomb...