Kamis, 17 Oktober 2024

Engkau Tidak Sendiri

 (Catatan atas unggahan vidio penjual makanan ringan menangis dan membanting jualannya di tepi jalan)

 

Sayup-sayup Ramadhan menepikan hujan, karena musim telah menggurat dalam catatan takdir. Demikian juga kisah seorang perempuan parobaya penjual makanan ringan yang menangis dan  membanting jualannya dengan balutan sesak dan amarah. Vidionya menyebar dan menuai berbagai apresiasi. Di kesempatan  yang baik ini, saya mohon ijin  berbagi catatan dan makna tentang peristiwa tersebut.

Ketika vidio melarutkan imaji, melarung pikiran pada tulisan Gunawan Muhammad di Tempo, edisi 11-17 januari 2021. “Mata memang menyerap benda benda sebidang demi sebidang, tak sekaligus. Penglihatan menjadi raja. Tak lagi manusia mengenal obyek dengan mendengar, mencium, meraba.” ungkapnya.

Bagi saya hadirnya vidio tersebut membawa banyak manfaat.  Orang yang semula tidak tahu menjadi tahu. Yang semula abai menjadi berpikir. Yang peduli menjadi lebih simpati. Judul Engkau Tidak Sendiri  saya pilih untuk mewakili pandangan dan nalar berpikir subyektif saya. Juga membatasi saya agar  tidak larut kemana- mana .

 

Ekspresi adalah kata kunci yang ingin saya sampaikan di tulisan ini.  Ibu tersebut telah memilih "cara' yang dianggap tepat oleh Beliau,  untuk mewakili suasana batin dan keinginannya. Dan itu sah. Atas nama ekspresi siapa pun boleh tertawa, menangis, bersedih, takut, marah, kecewa, asalkan tidak mengganggu dan merugikan orang lain.

Lantas apa makna tidak sendiri yang ingin saya sampaikan?

Saya membayangkan ( anggap saja) penduduk kota  X, berjumlah 2000 orang. Maka, akan dihasilkan 2000 ekspresi di kota itu pada momentum waktu yg sama. Jika 1 ekspresi disaksikan atau mendapatkan apresiasi 2000 orang, maka akan diproduksi 4 juta narasi. Wow....betapa kaya kota itu dengan belantara kata-kata. Penulis tak akan terusik, karena ia dan pembaca  tetap duduk di singgasana tertinggi sebagai Penafsir. Dan tidak ada yg salah dari Penafsir sebatas tidak melanggar aturan, norma, dan pranata hukum.

Artinya, jika Ibu itu berada di Kota X dengan 2000 penduduk, maka ekspresi dan narasi dalam vidio itu bukan satu satunya yang hadir.  Di tempat lain bisa jadi ada Ibu Ibu yang menangis sembari memukuli bahu suaminya lantaran tak mampu membeli kebutuhan pokok. Kesedihan yang tersaji,  terbuka peluang  sama dengan ekpresi yang dirasakan atau dimunculkan oleh warga kota X lainnya. Ibu, .....Njenengan tidak sendiri.

Kedua,  setiap individu tidak pernah lepas dari hukum satuan motivasi. Ucapan dan pilihan tindakan selalu dilatarbelakangi motivasi. Sebagai penonton, kita hanya bisa menebak, mengambil data, menganalisa, tanpa tahu motivasi sesungguhnya. Kecuali diberi tahu langsung. Itu pun belum tentu  sepenuhnya benar, jikalau informasi yang diterima jauh dari kejujuran. Artinya, dorongan seseorang berekspresi bisa dipengaruhi oleh apa pun dan siapa pun. Ternyata...dalam bawah sadar kita,  kita tidak sendiri.

Ketiga, pandemi telah merubah banyak hal dan situasi. Tidak terkecuali masalah ekonomi. Namun demikian, jalan terjal bukan tanpa pahlawan. Di perempatan Kebon Rojo Jombang, bisa kita saksikan penjual perempuan yang selalu tersenyum menawarkan makanan ringan dan beberapa minuman.  Ditengah kepungan sajian menarik hati, jualan Ibu itu terasa usang. tapi rejeki ada yang membagi. Beliau hampir tiap hari hadir di perempatan tersebut. Kadang berpindah di perempatan stasiun, Kadang berpindah di perempatan Pasar Ngrandu Perak. Bahkan jika terik menyengat, Beliau tak segan tidur di trotoar sambil merengkuh bakul tempat jualannya.

Ada lagi perempuan tua yang berkeliling jualan tikar dan tampah. Tikar di gendong di punggung, tampah di bawa di tangan. Meski berjalan sedikit membungkuk, hampir gang-gang dalam kota Beliau jelajahi. Tak jauh dari pusat kota, kala pagi bisa kita jumpai perempuan tua yang memunguti sampah di depan toko di sepanjang jalan raya A. Yani pusat kota Jombang. Dengan berbekal gerobak, Beliau sulap wajah kota dengan sematan Adipura.

Tak kalah ngilu....sepasang suami istri dengan kondisi berkebutuhan khusus, mengambil sampah sampah di kawasan Candimulyo Jombang. Tak jarang mereka sering bertengkar hebat disepanjang jalan. Saling memaki. Anak laki-lakinya usia 7 tahun,  hanya bisa menatap ketakutan. Anak itu,hanya berpindah kesamping gerobak sampah, atau terkadang lari ke seberang jalan menunggu orangtuanya reda. Diusia sekecil itu, dia harus menelan suasana mencekam diantara orang tuanya, tiap hari...tanpa pilihan.

Ada lagi penjual kangkung dari Bandarkedungmulyo, usianya hampir 75 tahun.  Namanya Mbah Suwadi, karena keistiqomahan Beliau menjadi imam mushola di kampungnya, Beliau juga akrab dipanggilMbah Imam. Di usia yang tidak muda lagi, Beliau masih gigih mengkayuh sepeda rengkek dengan tumpukan kangkung ke Pasar Legi Jombang. Jika angin tidak bersahabat, di tanjakan Tunggorono, Beliau harus menuntun sepedanya. Mulutnya nyaris  tak terkatup lantaran degup yang menderap. 

Kisah kisah tersebut, bukan mengecilkan arti ekspresi dalam vidio tersebut, tetapi saya ingin menyampaikan data yang lain agar bisa menjadi penyemangat manakala asa dan lelah mengunyah.

Tidak bisa dipungkiri, dalam situasi seperti ini, negara harus hadir. Dari sekian skema yang sudah dijalankan oleh Pemerintah Pusat, Propinsi, maupun Kabupaten, saya hanya ingin memberikan usulan, agar Pemerintah Kabupaten memberikan dorongan dan ruang bagi Pemerintah Desa menyusun strategi penanganan masalah kesejahteraan sosial ( kemiskinan masuk dalam salah satunya) dilingkup terkecil.

Pusat Kesejahteraan Sosial ( Puskessos) , bisa menjadi alat dalam menata perencanaan strategi penanganan masalah kesejahteraan sosial. Di Lembaga ini berkumpul Pendamping Sosial Desa, Kaur Kesra, Kader Karang Taruna, Kader Posyandu, RT, RW, Pendamping Sosial, Toga, dan Tomas.

Semua elemen bisa duduk bersama membincang strategi :

1. Input data kemiskinan berbasis RT

2. Rencana penanganan kluster terendah dalam peta data  tiap Desa dengan basis RT.

3. Pemetaan rujukan penanganan masalah kesejahteraan sosial.

4. Pengembangan Jejaring dan Development Community.

Puskessos bisa menjelma menjadi satelit bagi Pemerintah Kabupaten , untuk mengumpulkan data dan inovasi penanganan kesejahteraan sosial.

Setidaknya tiap Deaa akan mempunyai rencana kontingensi dalam penanganan kluster kemiskinan secara terperinci berdasarkan nama dan alamat,  beserta potensi dan pekerjaannya.

Kembali pada judul di depan....hadirnya Negara benar-benar ada bukan sekedar kata-kata.

Kami tidak sendiri, Pemimpin juga tidak sendiri. Kita saling memberi makna dan arti.

Salam ekspresi dan mawas diri


Jombang

Hormat saya,

Inswiardi

 

Pegiat Budaya NU dan Pendamping Sosial

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengorganisasian Kesenian di Jombang dalam Upaya Rekontruksi, Revitalisasi, dan Eksperimentasi Kesenian*)

  Oleh : Inswiardi   Terima kasih yang mendalam kami sampaikan kepada Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, Dan Olah Raga Kabupaten Jomb...