| (catatan kecil hari ulang tahun Munggut ke 1002, 3 April 1022) |
Baru tersadar kalau hari ini tanggal 3 April, buru buru usai tarawih, saya ambil hp dan spontan menulis, tuk menandai peristiwa berharga ini.
Ya, 3 April 1022, untuk pertama kalinya nama Munggut, disebut dalam sebuah prasasti yg dikeluarkan oleh Raja Airlangga.
Secara administratif, Dusun Munggut sekarang, berada di Desa Cupak Kecamatan Ngusikan. Dusun ini berada 3 km ke arah Utara, dari lokasi prasasti Munggut. Sedangkan prasasti Munggut berada di Dusun Sumbergurit Desa Katemas Kecamatan Kudu.
Saya tidak bisa membayangkan, seluas apa Desa Munggut pada saat itu. Meliputi daerah mana saja, belum ada bukti bukti lanjutan.
Prasasti Munggut berisi pemberian status sima kepada Desa Munggut, karena jasa para Tokoh dan Masayarakat desa tersebut kepada Raja Airlangga saat itu.
Jasa yang telah didedikasikan kepada Raja Airlangga, bisa terjadi ketika masa pelarian, membangun kerajaan, bahkan dalam mempertahankan kerajaan Mataram Kuno, yg telah dipindahkan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur.
Berbicara tentang cerita pelarian, di tanah Jombang terkumpul kisah kisah yg menarik tentang itu.
Pertama, tentang pelarian Airlangga, proses konsolidasi, mendirikan kerajaan, hingga mempertahankannya, tanah Jombang seakan memberi arti yg lebih.
Kedua, kisah pelarian Jayanegara. Menurut tafsiran Arkeolog Bapak Hasan Djakfar (Alm), beliau menjelaskan, sangat mungkin, peristiwa penyelamatan Raja Jayanegara oleh Gajah Mada, terhubung dengan daerah Bedander di Jombang. Situs Pager Banon, Situs Jaladri, cerita tutur dari masyarakat, gambaran di serat Pararaton, dan kajian prasasti Kusambyan oleh arkeolog Titi Surti Nastiti, memberikan gambaran yg saling terhubung.
Sebagai penanda atas hari ulang tahun Dusun Munggut, saya tidak membahas khusus tentang pelarian dari kedua Raja tersebut, namun saya akan sedikit berbagi secuil kisah yg mungkin terhubung dengan peristiwa pelarian kedua Raja besar tersebut.
Cerita ini, terinspirasi oleh celetukan Dosen Universitas Indonesia, Bapak Taqiyuddin, sewaktu beliau tergabung dalam tim penelitian zonasi tinggalan cagar budaya masa Mataram Kuno di Utara Brantas, bersama Puslit Arkeologi Nasional tahun 2017.
Saat itu, beliau bertanya, " Makanan khas sini ( Jombang), apa ya?" Spontan , saya menjawab kikil .
Beliau menyambung lagi, "Disebut khas karena banyak yang jual, atau khas karena didukung data kesejarahan?"
Seketika, tenggorokan saya tercekat. Mulut terkatup, tidak ada jawaban yg keluar, karena miskinnya referensi tentang hal tersebut. Suasana perbincangan di Lobby Hotel Fatma sesaat menjadi hening. Semua yg nimbrung, tampak serius sembari mengangguk angguk. Tak jelas pertanda apa, tapi jujur saja, momentum ini seperti penghakiman tak tampak atas kebodohan saya, sebagai masyarakat Jombang.
Pagi harinya, tim memulai pekerjaannya menuju utara Brantas. Kebetulan, lokasi yg dikunjungi adalah Kecamatan Plandaan. Rombongan tertarik melewati jalur penyeberangan perahu di Megaluh, yang sudah dimodifikasi bisa mengangkut mobil.
Mungkin tergelitik dengan perbincangan sore kemarin, tentang makanan khas Jombang, Pak Taqiyuddin kembali melontarkan pertanyaan yg sama ke sopir perahu dan beberapa penumpang yg duduk di atas motor. Saya yakin pertanyaan ini bersifat random dan menjadi obrolan sesaat diata perahu penyeberangan.
Sopir perahu tersebut, menjawab singkat, datar, penuh keyakinan, "Badendeng. "
Rombongan yg menyimak percakapan tersebut, terkejut, dan penuh rasa ingin tahu.
"Badendeng itu seperti apa Pak? "
"Ya, daging yg diawetkan, namun diberi bumbu terlebih dahulu."
"Ceritanya bagaimana Pak, kok bisa njenengan katakan sebagai Makanan khas?"
"Badendeng sudah di ceritakan leluhur kami secara turun temurun." jawab sopir perahu itu singkat. Sembari fokus pada haluan perahu yg terbuat dari kayu.
"Makanan Badendeng, berawal dari tradisi "penyambutan" perampok yg sering datang menyatroni desa kami. Menurut leluhur kami, agar rombongan (gerombolan) perampok tersebut tidak menjarah secara berlebihan, maka masyarakat menyambut mereka dengan cara menyediakan makanan yang berlimpah, dengan cara disembelihkan ternak mereka. Kadang sapi kadang kambing."
Dari dulu hingga sekarang teknik penggembalaan ternak di kawasan Utara Brantas tetap sama, yakni membuat kandang secara komunal di hutan- hutan. Sehingga ternak diletakkan agak jauh dari kawasan pemukiman.
"Setelah proses penjamuan para perampok berakhir, ternyata sajian berupa daging masih tersisa banyak. Oleh masyrakat, sisa daging tersebut diberi olesan bumbu tertentu, untuk selanjutnya diawetkan. Proses pengawetan ini dilakukan dengan metode pengasapan dan penjemuran, serta menyimpannya di tempat yg kering."
Saat itu, perahu sdh hampir mencapai tepian, rombongan bersiap menuju kendaraan , sehingga perbincangan non formal terhenti seketika. Sopir perahu itu juga berkemas menyiapkan tambatan, menarik uang ke penumpang lainnya, dan segera mematikan mesinnya.
Di dalam kendaraan, kami baru menyadari, luput menanyakan identitas sopir perahu tersebut. Juga perihal resep bumbu yg dioleskan ke daging, belum sempat kami tanyakan.
Peristiwa diatas, benar -benar melintas begitu saja dalam ingatan saya, ketika menulis catatan ini.
Kami juga sempat menanyakan kepada sopir perahu, mengapa dinamakan Badendeng. Beliau menjawab tidak tahu. Yang diketahui dari pendahulu pendahulunya ya nama Badendeng itu.
Kata kata Bedendeng mengingatkan kami dengan penyebutan nama Dander sekarang, yang semula bernama Madander, menjadi Badander, kemudian Bedander, lalu Dander.
Diskusi berlanjut hingga usai makan malam. Seperti penelitian penelitian terdahulu, tim selalu mendiskusikan hasil penelitian per harinya, setelah kegiatan makan malam. Berbagai temuan dianalisa malam itu, tidak terkecuali , lintasan tentang Badendeng.
Hal - hal yang digarisbawahi perihal Badendeng antara lain :
1. Mengapa harus ada tradisi penyambutan
2. Mengapa penyambutan dilakukan secara mewah. Jangan jangan rombongan tersebut, bukan rombongan perampok, tetapi rombongan orang-orang istimewa yg di " disembunyikan" agar tidak dicurigai oleh kelompok tertentu.
3. Mengapa sajiannya dibuat begitu istimewa dan berulang.
4. Mengapa situasi yg muncul dari penyambutan tersebut adalah suasana yg santun, dimana setiap selesai proses penyambutan, selalu tersisa daging, yang kemudian diawetkan oleh masyarakat.
5. Mengapa tidak tampak suasana kerakusan, rasa lapar yg berlebih, atau semangat menguasai makanan untuk bekal perjalanan para perampok, atau bekal oleh - oleh para perampok.
Akhirnya diskusi sampai pada dugaan , kalau gerombolan perampok itu adalah orang yg istimewa yang disembunyikan karena alasan tertentu ( semisal Raja yg sedang dalam pelarian) maka hanya ada 2 ingatan dalam perjalanan sejarah di Jombang, yakni kisah pelarian Raja Airlangga dan Jayanegara.
Kalau kemudian perjamuan itu dianggap perjamuan bagi tamu istimewa semisal Raja yg sedang dalam pelarian, maka tindakan penyambutan yg disamarkan melalui kisah penyambutan gerombolan perampok, merupakan tindakan terpuji yg membantu Raja.
Karena tindakan terpuji itulah, Raja kemudian memberikan balasan di kemudian hari berupa pemberian status sima ( pembebasan pajak) bagi desa desa yang tokohnya atau masyarakatnya telah berjasa buat Raja.
Plandaan , Kabuh, Kudu, Ngusikan adalah wilayah di Utara Brantas yang sejalur, dan kaya dengan temuan benda cagar budaya masa Airlangga. Jangan jangan peristiwa penjamuan tamu istimewa itu bagian dari perjalanan Raja Airlangga yang belum sempat terungkap.
Terhenti sampai disini, saya semakin bersetuju dengan apa yang disampaikan oleh Cak Nun, bahwa momentum hari lahir sebuah daerah, seyogyanya menjadi tetenger atau penanda yang mendidik masyarakatnya menjadi pembelajar.
Nukilan kisah Badendeng, saya persembahkan untuk menandai hari ulang tahun Dusun Munggut yg ke 1002.
Selamat berbagi dan berempati. Semoga kita senantiasa menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama. Aamiin ya robbalalaamiin๐ฅฐ๐๐๐๐๐๐
Hormat saya
Inswiardi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar